Oleh: Jake Adelstein
12 Mei 2008
Sumber: www.washingtonpost.com

Saya telah menghabiskan sebagian besar 15 belas tahun terakhir di sisi gelap negeri matahari terbit. Sampai tiga tahun lalu, saya merupakan reporter kriminal untuk Yomiuri Shimbun, suratkabar terbesar Jepang, dan meliput sedaftar nama karakter yang mencakup pembunuh berantai merangkap peternak hewan peliharaan, pelaku pornografi anak yang menculik siswi-siswi SMP, dan John Gotti-nya Jepang.

Saya datang ke Jepang pada 1988 di usia 19 tahun, menghabiskan sebagian besar masa kuliah dengan tinggal di sebuah kuil Zen Buddha, dan kemudian menjadi warga AS pertama yang diupah sebagai staf penulis untuk sebuah suratkabar di Jepang. Jika Anda tahu sesuatu tentang Jepang, Anda akan sadar betapa ganjilnya ini – seorang gaijin, atau orang asing, meliput kepolisian Jepang. Ketika memulai di awal 1990-an, saya tak tahu apa-apa soal yakuza, alias mafia Jepang. Tapi mengikuti jaringan prositusi dan usaha pemerasan mereka adalah kehidupan saya dahulu.

Kebanyakan orang Amerika menganggap Jepang sebagai tempat yang damai dan patuh hukum, serta sekutu setia, tapi peliputan dunia bawah tanah memberi saya perspektif berbeda. Gerombolan merupakan entitas legal di sini. Majalah penggemar dan buku komik mereka dijual di toserba, dan bos-bosnya bersosialisasi dengan perdana menteri dan politisi. Dan sepanjang menyangkut AS, Jepang mungkin mengisi bahan bakar kapal-kapal perang AS di laut, tapi mereka tidak akan melakoni perang kita terhadap kejahatan terorganisir – sebuah kesadaran yang melahirkan berita pertama terbesar saya.

Saya suka pekerjaan saya. Polisi yang memerangi kejahatan terorganisir adalah pembangkang pemabuk berat – banyak yang terlihat seperti gangster (musuh mereka), dengan setelan hitam dan rambut licin ke belakang. Mereka adalah orang luar di masyarakat Jepang, dan barangkali karena saya juga orang luar, kami bergaul dengan baik. Ciri-ciri kesukuan yakuza juga menarik perhatian, seperti makhluk asing: badan penuh tato, jari yang hilang, dan struktur mirip keluarga. Saya jadi begitu terpesona, sampai-sampai—seperti seseorang yang menatap binatang liar—saya terlalu dekat dan kini khawatir akan nyawa saya. Tapi soal itu nanti saja.

National Police Agency (NPA) Jepang memperkirakan yakuza memiliki hampir 80.000 anggota. Faksi paling berpengaruh, Yamaguchi-gumi, dikenal sebagai “Wal-Mart-nya yakuza” dan dikabarkan mempunyai anggota hampir 40.000 orang. Di Tokyo saja, polisi mengidentifikasi lebih dari 800 perusahaan kedok milik yakuza: firma investasi dan audit, perusahaan konstruksi, dan toko kue. Para gangster bahkan mendirikan bank sendiri di California, menurut sumber bawah tanah.

Dalam tujuh tahun terakhir, yakuza telah memasuki bisnis keuangan. Securities and Exchange Surveillance Commission Jepang mempunyai indeks berisi lebih dari 50 perusahaan terdaftar yang bersangkutpaut dengan kejahatan terorganisir. Pasar begitu terkerubungi sehingga pejabat Osaka Securities Exchange memutuskan di bulan Maret bahwa mereka akan meninjau ulang semua perusahaan terdaftar dan mengeluarkan perusahaan yang ketahuan mempunyai jalinan dengan yakuza. Jika menurut Anda ini tak ada urusannya dengan AS, pikirkan lagi. Orang Amerika punya miliaran dolar di pasar saham Jepang. Jadi investor AS boleh jadi sedang mendanai gerombolan Jepang.

Saya pernah bertanya kepada seorang detektif dari Osaka, mengapa, jika aparat hukum Jepang tahu banyak soal yakuza, polisi tidak melumpuhkan mereka saja. “Kami tak punya UU RICO,” jelasnya. “Kami tak punya plea-bargaining (negosiasi tuntutan), program perlindungan saksi, atau program relokasi saksi. Akhirnya yang kami lakukan sebagian besar hanya memotong cabang-cabangnya… Jika pemerintah memberi kami alat-alat tersebut, kami akan menutup mereka, tapi kami tak punya.”

Di masa lalu, yakuza memperoleh sebagian besar uang mereka dari bisnis kotor: pelacuran, narkoba, uang pengawalan, dan pornografi anak. Pornografi anak masih menjadi pendapatan dasar mereka – dan bidang lain di mana Jepang tidak bertingkah seperti teman Amerika.

Pada 1999, editor menugaskan saya untuk meliput lingkungan Tokyo yang mencakup Kabukicho, daerah pelacuran terbesar di Jepang. Baru-baru ini Jepang mengilegalkan pornografi anak, dengan enggan, setelah tekanan internasional tidak menyisakan pilihan bagi pejabat. Tapi pelarangan tersebut, yang masih berlaku, bercacat besar: ia mengkriminalkan pembuatan dan penjualan pornografi anak, bukan kepemilikannya. Jadi industri berlaba besar ini terus berjalan, tak mereda. Di edisi bulan lalu, sebuah majalah porno yang beredar luas menyatakan: “Gadis Sampul Ini Adalah Gadis Kami Yang Termuda: 14!” Kabukicho tetap dipenuhi hal-hal tersebut, dan pekerja seks remaja tersedia dengan mudah. Bahkan saya sudah lihat toko-toko khusus yang menjual pakaian dalam yang dikenakan penari telanjang remaja.

Pelarangan ini lemah sekali, sehingga penyelidikan terhadap yakuza yang menjajakan pornografi anak hampir mustahil. “AS telah menyerahkan ratusan…kasus kepada otoritas penegak hukum Jepang,” kata seorang juru bicara kedubes AS kepada saya baru-baru ini. “Tanpa kecuali, pejabat AS telah diberitahu bahwa kepolisian Jepang tidak bisa memulai penyelidikan karena kepemilikan adalah legal.” Pada 2007, Internet Hotline Center di Jepang mengidentifikasi lebih dari 500 situs lokal yang menampilkan pornografi anak.

Ada pembahasan di Jepang untuk mengkriminalkan kepemilikan, tapi beberapa partai politik (dan penerbit, yang meraup keuntungan besar) menentang ide ini. Aparat penegak hukum AS ingin menghentikan aliran masuk pornografi anak buatan Yakuza ke AS dan akan mendukung undang-undang demikian. Tapi mereka bahkan tidak dapat mencegah yakuza masuk ke negaranya. Mengapa? Sebab kepolisian nasional Jepang menolak berbagi informasi. Tahun lalu, seorang mantan agen FBI memberitahu saya bahwa, dalam berbagai konferensi selama satu dekade, NPA telah menyerahkan nama dan tanggal lahir sekitar 50 anggota yakuza. “Cuma 50 dari 80.000 anggota,” katanya.

Ketiadaan kerjasama ini sebagian bertanggungjawab atas adanya kesepakatan mengherankan dengan yakuza, dan atas artikel yang mengubah hidup saya. Pada 18 Mei 2001, FBI mengatur agar Tadamasa Goto—bos geng terkenal asal Jepang, yang oleh beberapa agen federal dijuluki “John Gotti-nya Jepang”—diterbangkan ke AS untuk menjalani transplantasi hati.

Goto masih hidup hari ini berkat operasi tersebut—menjadi sumber kejengkelan di kalangan penegak hukum Jepang lantaran FBI mengaturnya tanpa berunding dengan mereka. Dari sudutpandang AS, ini kejahatan yang diperlukan. FBI sudah lama curiga yakuza mencuci uang di AS, dan aparat penegak hukum Jepang dan AS mengkonfirmasi bahwa Goto menawari mereka petunjuk tentang perusahaan-perusahaan kedok dan gangster Yamaguchi-gumi sebagai ganti transplant tersebut. James Moynihan, kala itu perwakilan FBI di Tokyo yang memperantarai kesepakatan, masih membela operasi ini. “Anda tak bisa memonitor kegiatan yakuza di AS jika tidak tahu siapa mereka,” katanya di tahun 2007. “Goto baru memberi sedikit dari yang dijanjikannya, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Kecurigaan terhadap Yamaguchi-gumi terkonfirmasi pada musim gugur 2013, ketika agen khusus dari Immigration and Customs Enforcement (ICE), yang saya wawancarai, menelusuri beberapa juta dolar yang disimpan di rekening-rekening kasino dan bank-bank AS oleh Susumu Kajiyama, seorang bos yang dikenal sebagai “Kaisar Lintah Darat”. Para agen mengaku belum dapat petunjuk dari kepolisian Tokyo; mereka memperoleh sebagian informasi tersebut sewaktu meninjau ulang kasus Goto.

Tak seperti rekan Jepang mereka, aparat penegak hukum AS berbagi tips dengan Jepang. Petugas dari kedua negara mengkonfirmasi bahwa, pada November 2003, kepolisian Tokyo memanfaatkan informasi dari ICE dan Nevada Gaming Control Board untuk menyita uang tunai $2 juta dolar dari sebuah safe-deposit box di Jepang, yang disewakan kepada Kajiyama oleh firma berafiliasi kasino besar di Las Vegas. Menurut Agen Khusus ICE Mike Cox, hikayat Kajiyama mungkin bukan kejadian tersendiri. “Seandainya kami dapat lebih banyak informasi dari pihak Jepang,” tuturnya kepada saya tahun lalu, “saya yakin kami akan temukan kasus-kasus lain semacam ini.”

Saya sama sekali tidak objektif terhadap isu yakuza di negara angkat saya. Tiga tahun silam, Goto mendapat kabar bahwa saya sedang menyusun sebuah artikel tentang transplant hatinya. Beberapa hari kemudian, para bawahannya mengancam saya secara tak langsung. Lalu terjadilah pertemuan formal. Tawarannya blak-blakan. “Hapus artikel itu atau [kau] dihapus,” kata salah seorang dari mereka. “Juga keluargamu.”

Saya cukup paham untuk menganggap serius ancaman ini. Jadi saya terima nasehat seorang detektif senior Jepang, menelantarkan berita pertama dan mundur dari Yomiuri Shimbun dua bulan kemudian. Tapi saya tak pernah lupa cerita itu. Saya berencana menulisnya dalam sebuah buku, mengingat, dengan buruknya kesehatan Goto, dia akan meninggal pada saat buku ini terbit. Kalau tidak, saya berencana menghilangkan ihwal operasinya di menit terakhir.

Saya tidak menyangka isinya akan bocor, yang terjadi November lalu, sebelum buku saya dirilis. Kini FBI dan aparat setempat memantau keluarga saya di AS, sementara kepolisian Tokyo dan NPA mencari saya di Jepang. Saya ingin pulang, tapi Goto terkenal suka menghabisi sasarannya dan orang-orang terdekat.

Awal Maret, di hadapan saya, seorang agen FBI meminta NPA menyediakan daftar anggota organisasi Goto agar mereka bisa dicegah masuk ke AS dan membunuh keluarga saya. Mulanya NPA enggan, menyebut “urusan privasi”, tapi setelah menimbang masak-masak, mereka menyerahkan sekitar 50 nama. Padahal arsip kepolisian Tokyo mendaftar lebih dari 900 anggota. Saya tahu [angka] ini lantaran seseorang memajang arsipnya di internet pada musim panas 2007; seorang detektif Jepang dipecat gara-gara kebocoran ini.

Tentu saja, saya sedikit bias. Saya rasa bukanlah bentuk keegoisan jika saya lebih menghargai keselamatan keluarga saya daripada privasi para bajingan. Dan sebagai reporter kriminal, saya heran kenapa Jepang tidak berbagi info tentang yakuza dengan AS.

Sekali lagi, mungkin saya rewel. Mungkin penguasa Jepang cuma merasa malu betapa yakuza telah menjadi kuat. Dan jika tidak malu, semestinya mereka malu.

Tentang penulis:

Jake Adelstein adalah jurnalis kriminal dan blogger Yahudi Amerika yang menghabiskan sebagian besar karirnya di Jepang, dan penulis buku Tokyo Vice: An American Reporter on the Police Beat in Japan.

Ilustrasi: Later that night Tokyo Tower
(Yanchao Gao/Pixabay)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s